Jakarta – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menganggap pemanfaatan materi bakar alternatif dari sampah perkotaan atau refuse-derived fuel (RDF) dalam produksi semen membantu mengatasi persoalan sampah lalu solusi untuk menurunkan emisi karbon.
“Pemanfaatan RDF dalam produksi semen tidaklah belaka sekali membantu dalam mengatasi persoalan sampah yang dimaksud mana kerap menimbulkan kesulitan lingkungan lalu sosial, tetapi juga merupakan solusi untuk menurunkan emisi karbon yang digunakan mana menjadi penyebab pemanasan global serta juga perubahan iklim,” ujar Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni dalam keterangan tertoreh pada Jakarta, Sabtu.
Pemanfaatan RDF juga disebut membantu perusahaan mendapatkan sumber energi alternatif yang digunakan hal tersebut ramah lingkungan juga memberikan manfaat kegiatan dunia usaha secara berkelanjutan melalui prinsip perekonomian sirkular.
Karena itu, SIG melalui anak bidang perniagaan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) menjalin kerja serupa dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung selama tiga tahun dalam pemanfaatan RDF untuk mengatasi persoalan sampah di dalam area Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penandatanganan nota kesepahaman dijalankan oleh Direktur Manufacturing SBI Soni Asrul Sani kemudian juga Penjabat (Pj) Bupati Temanggung Hary Agung Prabowo.
Kerja sebanding pemanfaatan RDF dari Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) akan dibangun pada Desa Sanggrahan, Kabupaten Temanggung, dengan dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum kemudian Perumahan Rakyat (PUPR).
Setiap hari, TPST Sanggrahan dapat menghasilkan 65 ton RDF. Selanjutnya, Pemkab Temanggung melalui TPST Sanggrahan akan mengirimkan RDF yang digunakan dimaksud dihasilkan pada TPST yang tersebut ke pabrik semen SBI pada Cilacap, Jawa Tengah untuk digunakan sebagai komponen bakar alternatif substitusi batu bara.
“Kerja identik antara SBI dengan Pemkab Temanggung dalam pemanfaatan RDF merupakan bentuk dukungan perusahaan kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah yang tersebut kerap menjadi permasalahan dalam berbagai wilayah pada area Indonesia. Kolaborasi antara pelaku industri lalu pemerintah daerah ini penting untuk dilaksanakan untuk menciptakan nilai bersama (shared-value), serta menjaga kelestarian lingkungan kemudian juga mengurangi pemanasan global kemudian perubahan iklim yang mana mana dampaknya sudah mulai dirasakan saat ini,” kata Vita.
Pengelolaan sampah menjadi RDF dijalani oleh unit usaha SBI di tempat area bidang pengelolaan limbah, yaitu Nathabumi dengan metode co-processing. Metode ini bekerja dengan menjadikan sampah sebagai komponen penunjang atau materi bakar pada proses produksi semen dalam tanur bersuhu tinggi, sehingga tidak ada ada menyisakan residu juga tambahan ramah lingkungan.
Pemanfaatan RDF dalam produksi semen sejalan dengan dua strategi pada pilar keberlanjutan SIG, yakni “Perlindungan Terhadap Lingkungan” yang digunakan digunakan tertuang dalam SIG Sustainablity Road Map, antara lain pemanfaatan sumber daya terbarukan (berbahan dasar limbah) sebagai material baku kemudian bakar alternatif, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.
“Kerja identik dengan Pemkab Temanggung dalam pemanfaatan RDF diharapkan dapat meningkatkan substitusi energi panas atau thermal substitution rate (TSR) untuk menyokong SIG dalam mengakselerasi pencapaian target penurunan emisi karbon scope 1 menjadi 515 kg CO2/ton cement eq pada 2030,” ungkapnya.
Pj. Bupati Temanggung, Hary Agung Prabowo menyampaikan bahwa SBI adalah mitra yang tersebut tepat untuk kebutuhan pengelolaan sampah di dalam tempat Temanggung.
“Sama seperti dalam tempat berbagai daerah lain di tempat dalam Indonesia, permasalahan sampah juga menjadi momok di dalam area Temanggung. Harapan kami, kerja mirip dengan SBI dapat membantu mengurangi beban pada TPA (Tempat Pembuangan Akhir) juga hasilnya pun bermanfaat untuk perusahaan semen seperti SBI,” ucap Hary.
+ There are no comments
Add yours