Ekspor Mobil Buatan Indonesia ke Meksiko Terkendala Kuota

Estimated read time 3 min read

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia mengalami kendala  Completely Built Up (CBU) buatan Indonesia ke Meksiko.

Menurut Airlangga oleh sebab itu Indonesia belum mempunyai Perjanjian Komprehensif serta juga Progresif untuk Kemitraan TransPasifik (CPTPP) danFree Trade Agreement(FTA) di dalam area kawasan tersebut.

“Ada cara untuk bagaimana kita dapat masuk untuk pasar yang mana dimaksud tambahan luas pada negara-negara Amerika Latin, antara lain pemerintah sedang mempelajari CPTPP, oleh sebab itu CPTPP akan membuka pasar seluruhnya di area tempat Amerika Latin,” kata Airlangga pada dalam Tangerang, Banten, Rabu (19/10), mengutip Antara.

CPTPP merupakan sebuah perjanjian dagang antara Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura kemudian Vietnam.

Airlangga menjelaskan negosiasi perjanjian bilateral antara Indonesia lalu Meksiko akan terus didorong.

“FTA itu tak satu tahun (selesai dalam satu tahun), itu 1-2 tahun baru kita sanggup akses pasarnya,” ujar Airlangga.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Peningkatan Ekspor Nasional ini mengatakan, hambatan ekspor ke negara Amerika Selatan selain kuota yang mana terbatas juga lantaran bea masuk yang tersebut digunakan tinggi.

Menurut Airlangga, untuk item sepatu saja, bea masuk yang dimaksud dikenakan dapat jadi mencapai 20 persen. Oleh dikarenakan itu, pemerintah akan terus mencari solusi agar ekspor Indonesia pada wilayah itu dapat berkembang.

“Makanya kita harus kerja sebanding dengan merek melalui FTA atau melalui CPTPP, nanti dicari jalan yang digunakan dimaksud lebih tinggi banyak baik,” ucap Airlangga.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan, Kementerian Perdagangan serta Kementerian Luar Negeri berkomitmen untuk meningkatkan ekspor otomotif ke wilayah Amerika Latin serta juga Meksiko, dalam antaranya melalui perjanjian perdagangan bebas atauFTA serta penambahan kuota impor.

Jerry menyampaikan, saat ini FTA dengan Amerika Latin kemudian Meksiko masih dalam proses penjajakan juga juga cukup bergerak dibahas beberapa kementerian serta lembaga terkait.

Menurut dia, Kementerian Luar Negeri sangat berpartisipasi dalam memberikan diplomasi perekonomian di area dalam mancanegara.

“Sedang di-assess oleh unit juga juga oleh beberapa kementerian/lembaga, dari Kemlu juga sangat aktif, jadi saya pikir ini menjadi salah satu catatan juga,” ujar Jerry.

Pemerintah saat ini fokus membuka akses pasar non tradisional seperti Amerika Latin, Eropa Tengah juga Timur, Asia Selatan kemudian Tengah serta Pasifik Selatan, agar terjadi peningkatan ekspor, termasuk produk-produk otomotif.

Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury menyampaikan, jumlah agregat total kuota impor dari pemerintah Meksiko untuk Indonesia saat ini memang masih dibatasi, cuma 2.000 unit. Menurut Pahala, hal ini masih dapat dinegosiasi agar jumlahnya dapat mencapai 10 ribu unit.

“Tentunya nanti akan kita bicarakan secara bilateral dengan pemerintah setempat dalam Meksiko, dikarenakan memang kita kan belum miliki FTA dengan negara-negara di dalam dalam Meksiko, tapi saya rasa kita bisa saja jadi melakukan pembicaraan bilateral mengenai total total kuota,” kata Pahala.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Bob Azam mengatakan, FTA mampu menjadi salah satu kunci peningkatan daya saing pada pasar ekspor.

FTA sendiri memberikan beberapa jumlah keseluruhan manfaat, seperti tarif preferensi atau diskon bea masuk bagi hasil ekspor dengan syarat Indonesia dalam negara tujuan. Hal ini dapat meningkatkan daya saing pelaku industri lalu membuka akses pasar pada luar negeri.

“Dalam ekspor itu, FTA jadi salah satu kunci daya saing kita, selisihnya kan dapat cuma 10-15 persen bahkan lebih tinggi tinggi dari itu,” tutup Bob.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours