BSIP: Perlu standar adaptasi hadapi El Nino agar tingkatkan luas tanam

Estimated read time 3 min read
Standar adaptasi yang disebut meliputi pemanfaatan varietas padi antisipasi perubahan iklim, pemupukan berimbang, teknologi hemat air, pengaturan tinggi muka air pada lahan rawa, perbaikan kualitas pakan ternak

Jakarta – Kepala Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian Fadjry Djufry mengatakan adaptasi pertanian untuk mengurangi dampak perubahan iklim serta El Nino perlu didukung dengan standar lalu aturan yang digunakan digunakan jelas sehingga dapat meningkatkan luas tanam lalu produksi padi.

“Standar adaptasi hal itu meliputi pengaplikasian varietas padi antisipasi perubahan iklim, pemupukan berimbang, teknologi hemat air, pengaturan tinggi muka air pada lahan rawa, perbaikan kualitas pakan ternak,” kata Fadjry terkait kegiatan “Adaptasi Perubahan Iklim Pada Musim Hujan 2023/2024 Mendukung Peningkatan Luas Tanam” di dalam dalam Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagaimana keterangan diterima Sabtu.

Cara-cara adaptasi lainnya untuk meminimalisir dampak perubahan iklim, kata Fadjry, adalah pemakaian aplikasi Kalender Tanam lalu Sistem Informasi Standing Crop, penyediaan penyimpan air (embung, long storage, dam parit, lalu lainnya) serta implementasi konservasi tanah kemudian juga air.

Acara itu digelar oleh BSIP Kementan bekerjasama dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) didukung oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan juga Perikanan Kabupaten Tasikmalaya.

Tasikmalaya dipilih sebagai perwakilan Provinsi Jawa Barat, yang dimaksud yang merupakan salah 1 dari 10 provinsi Gerakan Nasional (Gernas) penanganan El-Nino.

Kementan pada tempat bawah Plt Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi menargetkan peningkatan produksi beras 11,9 persen atau 35,8 jt ton pada 2024 yang mana diperoleh dari produksi Gabah Kering Giling 62,11 ton GKG atau naik sekitar 13,46 persen dibandingkan produksi ATAP 2022. Produksi itu dapat dicapai melalui luas panen 11,86 jt ha, melalui peningkatan Indeks Pertanaman pada lahan sawah maupun lahan sawah tadah hujan.

Dalam kesempatan itu, dilaksanakan pula Aksi Tanam Bersama pada Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.

Sekretaris BSIP Haris Syahbuddin, menyerahkan bantuan benih padi varietas Inpari 32 kelas SS sebanyak 250 kg yang tersebut dimaksud merupakan preferensi rakyat setempat.

Benih ini selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh petani menjadi benih sebar (kelas ES) sebanyak 500 ton yang dimaksud dapat memenuhi luas tanam 20.000 hektare , benih 250 kg ES untuk 100 ha lahan dengan produksi minimal 5 ton/ha, yang mana diharapkan dapat menghasilkan 500.000 kg benih ES.

Potensi persawahan dalam dalam Tasikmalaya mencapai 51 ribu hektar, terdiri dari 35.000 ha sawah irigasi lalu 16.000 ha sawah non irigasi.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan kemudian juga Perikanan Kabupaten Tasikmalaya Nuraedidin menjelaskan bahwa kearifan lokal masih digunakan dalam Kabupaten Tasikmalaya sebagai antisipasi perubahan iklim, salah satunya penyelenggaraan kincir air untuk mengalirkan air dari sumber air ke lahan persawahan yang tersebut hal itu sangat membantu dalam memenuhi ketersediaan air.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Maman Suryaman menjelaskan pentingnya peran Perguruan Tinggi dalam penelitian untuk membantu antisipasi perubahan iklim.

Maman menegaskan pentingnya pemberian komponen organik sebagai pupuk kandang maupun pupuk organik lainnya sebelum tanah, yang mempunyai kemampuan menahan air untuk ketersediaan air bagi tanaman.

Selain itu, Maman juga mengungkapkan hasil penelitian berbentuk pengaplikasian ekstrak kulit buah-buahan (manggis, buah naga, serta lainnya) yang dimaksud dimaksud diberikan ke dalam tanah juga mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air.

Perhimpi memberikan bimbingan teknis tentang pemanfaatan data lalu informasi iklim untuk perencanaan waktu tanam, juga tentang prediksi iklim hingga skala dasarian atau bulanan dalam jangka waktu satu musim ke depan sehingga diperoleh gambaran kondisi iklim khususnya curah hujan.

“Informasi ini penting dalam rangka antisipasi juga perencanaan yang mana digunakan tambahan baik guna meminimalkan risiko yang digunakan dimaksud kemungkinan akan terjadi. Kapan mau tanam, kapan mau memupuk, semuanya kerugian sanggup diantisipasi jika memahami prediksi iklim yang mana ada dalam aplikasi,” kata pakar Perhimpi Dr. Elza Surmaini.

Sinergi antar lembaga pemerintah pusat, daerah juga organisasi profesi ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilar pencapaian target Kementan 2024 dalam dalam antaranya peningkatan produksi beras 11 persen.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours