Siklon Tropis Melintas RI, Bisa Bikin Wilayah Jawa Kebagian Hujan?

Estimated read time 4 min read

Prakiraan cuaca seminggu Badan Meteorologi, Klimatologi, juga juga Geofisika () mengungkap Jawa, yang tersebut digunakan masih dilanda kekeringan sejauh ini, tak masuk wilayah yang mana mana berpotensi kena . Simak penyebabnya.

Hal yang digunakan terungkap dalam ‘Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 20 Oktober–26 Oktober 2023’ yang digunakan dikeluarkan BMKG.

“Berdasarkan prediksi kondisi global, regional, lalu probabilistik model diprakirakan kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terdapat dalam area wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Barat, juga Papua,” menurut keterangan lembaga.

BMKG menjelaskan hujan di wilayah-wilayah itu disebabkan beberapa faktor. Pertama, kemunculan Siklon Tropis Sanba. 

Siklon ini terpantau berada dalam tempat sekitar Beibu Gulf, sebelah utara Natuna dengan kecepatan angin maksimum 35 knots (65 km/jam) juga tekanan udara minimum 1002 hPa.

Hal ini membentuk daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin perlambatan angin (konvergensi) dalam Malaysia bagian utara, Teluk Thailand Teluk hingga Laut China Selatan.

Siklon tropis Sanba bergerak ke Utara-timur laut menjauhi wilayah Indonesia dengan kemungkinan intensitas semakin meningkat.

Daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lainnya terpantau memanjang dari Pesisir barat Aceh hingga Sumatera Utara, dari Lampung, Bengkulu, hingga Sumatera Barat, dari Selat Makassar, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat, dandari Papua bagian tengah hingga Papua Barat.

“Kondisi yang mana mampu meningkatkan prospek pertumbuhan awan hujan pada sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut,” kata BMKG.

Kedua, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator yang tersebut dimaksud diprakirakan bergerak dalam Sumatra, Sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, gelombang Kelvin terpantau bergerak di tempat dalam wilayah Sumatra Utara serta juga Kalimantan Selatan dalam sepekan ke depan.

“Sehingga, faktor-faktor itu menyokong kemungkinan pertumbuhan awan hujan dalam wilayah tersebut.”

BMKG pun mengeluarkan peringatan dini kemungkinan cuaca ekstrem pada dalam wilayah yang tersebut hal itu terdampak faktor-faktor pada tempat atas.

“Peringatana Dini. Masyarakat dihimbau agar tetap waspada juga berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) juga dampak yang digunakan hal tersebut dapat ditimbulkannya,” kata lembaga tersebut.

“Seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohontumbang, serta jalan licin dalam satu minggu ke depan.”

Berikut rincian wilayahnya:

20–21 Oktober: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatam, Papua Barat, juga Papua.

22–23 Oktober: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, lalu Papua.

24–26 Oktober: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, juga Papua.

Awal musim hujan November

Namun demikian, yang digunakan mana perlu menjadi catatan adalah bahwa musim hujan baru akan tiba dalam dalam Indonesia juga juga mengakhiri kekeringan akibat El Nino pada November 2023. Menurut prediksi BMKG, angin pembawa hujan akan datang lebih besar banyak lambat dari biasanya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan angin baratan atau penanda awal mula musim hujan yang tersebut mana berasal dari Benua Asia diprediksi akan datang lebih banyak lanjut lambat dari normalnya. Menurutnya hal ini yang mana menyebabkan musim hujan baru akan tiba di dalam tempat Indonesia bulan depan.

“Jadi awal musim hujan secara umum diprediksi akan terjadi pada bulan November 2023, namun, oleh sebab itu tingginya keragaman iklim di area dalam Indonesia, menyebabkan awal musim hujan tiada terjadi secara serentak di area area seluruh wilayah,” kata Dwikorita.

Dwikorita mengungkap keserentakan yang digunakan mana jarang terjadi ini menimbulkan awal musim kemarau di dalam area Indonesia terjadi tambahan cepat pada beberapa daerah. “Pertanyaannya kapan awal musim hujan?” ucap dia.

Menurut Dwikorita, awal musim hujan umumnya berkaitan erat dengan peralihan angin timuran dari arah Australia atau disebut mosoon Australia menjadi angin baratan atau monsoon Asia atau angin yang mana berasal dari arah benua Asia.

“Jadi akan terjadi pergantian saat ini yang tersebut mana berpengaruh angin dari Australia, gurun Australia, yang mana dimaksud saat ini sedang musim dingin kemudian kering,” kata dia.

“Dan insyaAllah akan segera berganti dengan angin yang mana digunakan berasal dari benua Asia, kemudian akhirnya apabila angin itu berasal dari benua Asia yang mana yang membawa uap-uap air dari Samudera Pasifik pada sekitar Asia, maka diharapkan segera memberikan awan-awan hujan lalu mendatangkan musim hujan dalam wilayah kepulauan Indonesia,” pungkasnya.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours